February 16, 2005

Tercabar

Filed under: Oemoem

assalamu ‘alaikum wr.wb.

Kata ‘tercabar’ biasa kita dengar dari orang Malaysia, yang kira-kira bisa diartikan ‘tertantang’. Kata ‘cabaran’ itu bisa diartikan juga sebagai ‘tantangan’.

Nah, konon di sebuah milis IT far-far away, ada seorang tokoh yang cukup ngeselin dengan pernyataan-pernyataannya yang nggak nyambung dan suka sekali berasumsi tanpa bukti. Karena begitu ngeselinnya, sampai yang bersangkutan ini menuai respon-respon yang mempertanyakan maksud dari si yang bersangkutan ini (kok bahasanya belibet ya ?) dari beberapa anggota milis. Dari tulisannya, jelas-jelas anggota milis yang lain itu benci betul melihat tingkah posting si yang bersangkutan ini.

Nah, inilah yang dinamakan ‘tercabar’, tertantang, atau tergugat. Gara-gara orang yang ngeselin, kita jadi terpancing untuk bereaksi. Reaksi kita ini sebenarnya berbentuk nafsu amarah, yang dicurahkan dalam bentuk posting ke milis. Saya kok melihat reaksinya jadi agak berlebihan ya ??

Saya sendiri sebenarnya juga masih memelihara nafsu posting ini. Entah bagaimana memang susah ditahan, kalau kerjaan kita hari-hari di depan komputer, dan rasanya memang enak sekali (nah, ini yang namanya nafsu itu yang begini ini) untuk menghantam seseorang yang ngeselin betul.

Tapi apakah tidak lebih baik kalau saya dan kita semua mencoba belajar menahan nafsu sehari saja untuk tidak mengomentari posting yang bersangkutan tadi ? Nafsu ini jelek, mendorong kepada kejahatan. Ada ayat di kitab suci Al Qur’an, yang menyatakan bahwa nafsu itu mendorong kepada kejahatan. Kalau kita komentari dia, setidaknya ada juga waktu kita nonproduktif terbuang gara-gara ngomentarin orang. Belum lagi korban perasaan, kesel-kesel sendiri, eh siapa tahu yang bersangkutan cuek-cuek aja. Rugi di kita, untung di dia.

Setidaknya kalau kita coba tidak mengomentari posting yang bersangkutan ini, mudah-mudahan yang bersangkutan bisa bosen sendiri, karena nggak ada yang nanggepin. Sambil kita coba doakan yang bersangkutan ini agar sadar untuk tidak mengulangi perbuatannya yang ngeselin itu.

Kok jadi menggurui ? Ya gak tahu ya, saya capek aja melihat sesuatu kekacauan yang berulang terus menerus. Mudah-mudahan saya dan kita semua bisa berubah dari orang yang menuruti hawa nafsu menjadi orang yang menekan hawa nafsunya ke nafsu yang tenang.

Segala kesalahan dari saya, saya mohon ampun maaf.

wass.wr.wb.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://affanzbasalamah.blogsome.com/2005/02/16/tercabar/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here