February 23, 2005

Bill Gates Masuk Surga ?

Filed under: Oemoem

Assalamu ‘alaikum wr.wb.

Agak bingung juga setelah baca posting Detikcom ini. Ringkasnya, Menkominfo mengatakan bahwa orang yang masuk surga pertama kali adalah Bill Gates atas jasa-jasanya mengembangkan sistem operasi Microsoft Windows.

Setahu saya, I’tiqad Ahlussunah Wal Jamaah mempercayai bahwa manusia yang masuk Surga pertama kali itu adalah Rasulullah Muhammad SAW. Surga diharamkan kepada semua makhluk ciptaan Tuhan sebelum Rasulullah Muhammad SAW masuk kedalam Syurga.

Saya berharap gurauan ini nggak usah diteruskan lagi. Tidak baik memperguraukan manusia yang paling agung yang pernah ada di muka bumi ini, seorang manusia yang sangat-sangat prihatin terhadap nasib kita-kita umatnya yang belum terjamin keselamatannya di akhirat nanti.

Walaupun demikian, kita sebenarnya jangan terlalu pesimis Bill Gates bisa masuk Surga. Siapa tahu Tuhan memberikan hidayah kepada Bill Gates untuk memeluk agama Islam dan meninggal dalam keadaan tidak banyak dosa seperti kita-kita. Kita (terutama saya sendiri) harusnya takut sekali apabila kita dimatikan Tuhan dalam keadaan tidak memegang iman, karena Tuhan mampu sekali berkehendak demikian.

Mudah-mudahan berguna sebagai bahan renungan (terutama bagi saya sendiri),
Saya mohon ampun maaf atas kesalahan dan kesilapan,

wassalamu ‘alaikum wr.wb.

6 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://affanzbasalamah.blogsome.com/2005/02/23/bill-gates-masuk-surga/trackback/

  1. bill gates juga manusia…… heihiehieie :)

    Comment by Hendri Syahrial — February 24, 2005 @ 2:27 pm

  2. Saya mendukung pendapat Anda benar, masuk islam ibarat membeli karcis ke sebuah pertunjukan, artinya siapapun dia apabila hidup sejak kenabian Muhammad syarat masuk surga adalah islam, kemudian amal shalihnya. amin

    Comment by triharianto — June 22, 2005 @ 3:48 am

  3. Saya mendukung pendapat Anda benar, masuk islam ibarat membeli karcis ke sebuah pertunjukan, artinya siapapun dia apabila hidup sejak kenabian Muhammad syarat masuk surga adalah islam, kemudian amal shalihnya. amin

    Comment by triharianto — June 22, 2005 @ 3:49 am

  4. What is ISlam? Do you know it? How deep do you know Islam? How can you say that Islam is the way to Heaven, please explain more clearly.

    Comment by Firaun — June 6, 2006 @ 3:04 am

  5. DOA KANG SUTO
    Pernah saya tinggal di Perumnas Klender. Rumah itu dekat mesjid yang sibuk. Siang malam orang pada ngaji. Saya tak selalu bisa ikut. Saya sibuk ngaji yang lain.
    Lingkungan sesak itu saya amati. Tak cuma di mesjid. Di rumah-rumah pun setiap habis magrib saya temui kelompok orang belajar membaca Al Quran. Anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak, di tiap gang giat mengaji. Ustad pun diundang.
    Di jalan Malaka bahkan ada kelompok serius bicara sufisme. Mereka cabang sebuah tarekat yang inti ajarannya berserah pada Tuhan. Mereka banyak zikir. Solidaritas mereka kuat. Semangat agamis, pendeknya, menyebar di mana-mana.
    Dua puluh tahun lebih di
    Jakarta, tak saya temukan corak hidup macam itu sebelumnya. Saya bertanya: gejala apa ini? Saya tidak heran Rendra dibayar dua belas juta untuk membaca sajak di Senayan. Tapi, melihat Ustad Zainuddin tiba-tiba jadi superstar pengajian (ceramahnya melibatkan panitia, stadion, puluhan ribu jemaah dan honor besar), sekali lagi saya dibuat bertanya: jawaban sosiologis apa yang harus diberikan buat menjelaskan gairah Islam, termasuk di kampus-kampus sekular kita? Benarkah ini wujud santrinisasi?
    Di Klender yang banyak mesjid itu saya mencoba menghayati keadaan. Sering ustad menasihati, “Hiasi dengan bacaan Quran, biar rumahmu teduh.”
    Para “Unyil” ke mesjid, berpici dan ngaji. Pendeknya, orang seperti kemarok terhadap agama.
    Dalam suasana ketika tiap orang yakin tentang Tuhan, muncul Kang Suto, sopir bajaj, dengan jiwa gelisah. Sudah lama ia ingin salat. Tapi salat ada bacaan dan doanya. Dan dia tidak tahu. Dia pun menemui pak ustad untuk minta bimbingan, setapak demi setapak.
    Ustad Betawi itu memuji Kang Suto sebagai teladan. Karena, biarpun sudah tua, ia masih bersemangat belajar. Katanya, “Menuntut ilmu wajib hukumnya, karena amal tanpa ilmu tak diterima. Repotnya, malaikat yang mencatat amal kita Cuma tahu bahasa Arab. Jadi wajib kita paham Quran agar amal kita tak sia-sia.”
    Setelah pendahuluan yang bertele-tele, ngaji pun dimulai. Alip, ba, ta, dan seterusnya. Tapi di tingkat awal ini Kang Suto sudah keringat dingin. Digebuk pun tak bakal ia bisa menirukan pak ustad. Di Sruweng, kampungnya, ‘ain itu tidak ada. Adanya cuma ngain. Pokoknya, kurang lebih, ngain.
    “Ain, Pak Suto,” kata Ustad Bentong bin H. Sabit.
    “Ngain,” kata Kang Suto.
    “Ya kaga bisa nyang begini mah,” pikir ustad.
    Itulah hari pertama dan terakhir pertemuan mereka yang runyem itu. Tapi Kang Suto tak putus asa. Dia cari guru ngaji lain. Nah, ketemu anak PGA. Langsung Kang Suto diajarinya baca Al-Fatihah.
    “Al-kham-du …,” tuntun guru barunya.
    “Al-kam-ndu …,” Kang Suto menirukan. Gurunya bilang,
    “Salah.”
    “Alkhamdulillah …,” panjang sekalian, pikir gurunya itu.
    “Lha kam ndu lilah …,” Guru itu menarik napas. Dia merasa wajib meluruskan. Dia bilang, bahasa Arab tidak sembarangan. Salah bunyi lain arti. Bisa-bisa kita dosa karena mengubah arti Quran.
    Kang Suto takut. “Mau belajar malah cari dosa,” gerutunya.
    Ia tahu, saya tak paham soal kitab. Tapi ia datang ke rumah, minta pandangan keagamaan saya.
    “Begini Kang,” akhirnya saya menjawab. “Kalau ada ustad yang bisa menerima ngain, teruskan ngaji. Kalau tidak, apa boleh buat. Salat saja sebisanya. Soal diterima tidaknya, urusan Tuhan. Lagi pula bukan bunyi yang penting. Kalau Tuhan mengutamakan ain, menolak ngain, orang Sruweng masuk neraka semua, dan surga isinya cuma Arab melulu.”
    Kang Suto mengangguk-angguk.
    Saya ceritakan kisah ketika Nabi Musa marah pada orang yang tak fasih berdoa. Beliau langsung ditegur Tuhan. “Biarkan, Musa. Yang penting ketulusan hati, bukan kefasihan lidahnya.”
    “Sira guru nyong,” (kau guruku) katanya, gembira.
    Sering kami lalu bicara agama dengan sudut pandang Jawa. Kami menggunakan sikap semeleh, berserah, pada Dia yang Mahawelas dan Asih. Dan saya pun tak berkeberatan ia zikir, “Arokmanirokim,” (Yang Pemurah, Pengasih).
    Suatu malam, ketika Klender sudah lelap dalam tidurnya, kami salat di teras mesjid yang sudah tutup, gelap dan sunyi. Ia membisikkan kegelisahannya pada Tuhan.
    “Ya Tuhan, adakah gunanya doa hamba yang tak fasih ini. Salahkah hamba, duh Gusti, yang hati-Nya luas tanpa batas …”
    Air matanya lalu bercucuran. Tiba-tiba dalam penglihatannya, mesjid gelap itu seperti mandi cahaya. Terang-benderang. Dan kang Suto tak mau pulang. Ia sujud, sampai pagi.

    Comment by agus sutomo — October 8, 2006 @ 9:10 am

  6. ah knp seh gt sj diperdebatkan?ngak ada yg tau siapa yg masuk surga DULU kec Tuhan.mANUSIA ITU BISANYA CM NERKA2 SJ.pd akhirnya menghakimi org.apa salahnya rmh bill gates dkt masjid?lawong rumah mewah gt,neg sj ngak komplain koq km komplain.

    Comment by bell — September 11, 2007 @ 8:59 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here