Bentuk Paket Distribusi Aplikasi Open Source
Assalamu ‘alaikum wr.wb.
Sudah umum kita ketahui bahwa saat ini perangkat lunak Open Source berkembang dengan cepat. Makin populer saja. Banyak orang yang sudah tahu, dan banyak lagi yang sudah pakai. Walaupun tidak selalu berasosiasi dengan pengertian ‘gratis’, tetap saja aplikasi ini banyak diadopsi oleh orang banyak yang membutuhkan solusi perangkat lunak yang sangat beragam.
Teknologi Internet dengan pipa kecepatan tinggi membuat distribusi perangkat lunak Open Source ini makin cepat. Makin mudah saja mendownload sebuah sistem operasi seperti distro Linux (Fedora, Ubuntu), apalagi aplikasi-aplikasi yang tersimpan di Sourceforge. Tetapi dalam perjalanannya, ada faktor yang sedikit menghambat adopsi masyarakat terhadap aplikasi ini.
Yang saya maksud adalah bentuk paket distribusi aplikasi atau sistem operasi tadi. Coba misalkan anda mendownload rilis sistem operasi Fedora Core 5 (FC5) terbaru. Kalau anda ingin menginstal FC5 ini dari Internet, artinya anda harus mendownload 5 buah image ISO CD Installer FC5 ini, yang berarti 5 x 700 MB ~= 3,5 GB harddisk anda akan terpakai. Anda bisa juga membeli 5 buah CD ini di toko, tetapi mestinya keluarnya agak lama. Belum lagi anda harus mencari harddisk kosong atau mengkonfigurasi harddisk kesayangan anda untuk melakukan dual boot (asumsi saya komputer yang banyak dipakai bersistem operasi Windows). Kalau anda tekun, semua proses ini akan selesai dalam satu hari sendiri, belum termasuk waktu mendownloadnya.
Atau anda ingin mengevaluasi baik tidaknya sebuah aplikasi web tertentu, misalnya Bugzilla, sebuah aplikasi Bug Tracking yang cukup terkenal. Anda harus menyiapkan sebuah server terlebih dahulu yang berfungsi sebagai ‘tempat tinggal’ dari aplikasi tersebut. Dengan membaca sekian manual, anda harus melakukan proses instalasi terlebih dahulu. Mungkin anda pernah melakukan tindakan seperti ini di konsole Linux anda, hanya untuk menginstall sebuah aplikasi :
tar xvfz sebuah-aplikasi-baru.tar.gz
cd sebuah-aplikasi-baru/
more README
more INSTALL
./configure
make
make install
Asumsikan tidak ada error. Tapi biasanya ada, dimulai dari ketiadaan aplikasi lain yang dibutuhkan (dependencies), sampai dengan kesalahan yang benar-benar tidak bisa dibayangkan.
Memang beberapa sistem operasi sudah melakukan beberapa perbaikan untuk mempermudah proses instalasi, seperti Ports Collection nya FreeBSD, apt-get nya Debian, YAST nya SUSE, YUM nya Fedora, dan sebagainya. Tetapi tetap saja proses ini melelahkan.
Beberapa solusi yang saya amati di Internet yang dapat dipakai untuk mempercepat proses adopsi aplikasi Open Source ini, yaitu :
1. Membuat aplikasi Open Source ini tersedia pada sistem operasi Windows
Setuju atau tidak, masih terlalu banyak orang yang menggunakan Microsoft Windows dibandingkan dengan sistem operasi lain. Kalau seperti kata pepatah “If you can’t beat them, then join them“, maka beberapa aplikasi Open Source yang semula hanya menyediakan versi UNIX sudah mulai menyediakan distribusi Windows nya. Contoh yang populer yaitu Mozilla Firefox, Mozilla Thunderbird, Open Office, NMap, dan Ethereal.
2. Membuat LiveCD
Cara yang kedua ini dipakai oleh pengembang sistem operasi untuk memperkenalkan produknya, tanpa memaksa seseorang untuk menginstall ulang komputernya dengan OS yang bersangkutan. Cukup download image LiveCD ini, lalu di-burn ke CD, dan masukkan CD ini sewaktu booting. Maka orang akan langsung dapat mengevaluasi sebuah OS secara langsung.
3. Membuat image VMmare
Cara ketiga ini mulai populer akhir-akhir ini. Dimulai dengan langkah yang dilakukan VMWare untuk melepas sebuah produk gratis bernama VMWare Player dan dilanjutkan dengan mensetup sebuah website bernama Community Virtual Appliances pada VMWare Technology Network (VMTN). Situs ini berisi berpuluh-puluh sistem operasi dan aplikasi siap pakai yang tersedia dalam bentuk image VMware. Langkah pamungkasnya yaitu merilis VMware Server, yaitu aplikasi server consolidation yang juga tersedia secara gratis.
Pengguna cukup mendownload image VMware berisi OS/aplikasi siap pakai ini, dan menjalankannya pada VMware Player. Dalam kurang dari hitungan jam, seseorang sudah dapat mengevaluasi cocok tidaknya aplikasi Open Source yang ia inginkan. Tanpa pusing, tanpa pening. Tanpa install ulang, tanpa modifikasi MBR (Master Boot Record) untuk dual-boot. Tanpa ganti operating system. Kalau misalnya cocok, dengan aplikasi VMware Server, bahkan aplikasi tadi sudah langsung dapat dijalankan sebagai server yang operasional!
Coba anda lihat sendiri, bahwa aplikasi di website Community Virtual Appliance ini bukan hanya disediakan oleh penyedia aplikasi Open Source, bahkan vendor besar seperti IBM (DB2 Express), Oracle (10G Database), SUSE (SLES) dan lain-lain juga ikut bermain disitu. Ini berarti mereka pun juga cemas kalau mereka ditinggalkan oleh aplikasi Open Source yang kadang-kadang sudah memiliki fitur yang sangat baik.
Ini saya alami sendiri ketika saya berkeinginan mengevaluasi bagus tidaknya aplikasi Bugzilla. Sempat kepikiran ingin melakukan instalasi pada server FreeBSD saya, tetapi kok males ya. Belum setup database MySQL, virtual host Apache, dan sebagainya. Pokoknya males. Cari-cari di Google, ternyata ada yang menyediakan image VMware nya. Langsung saja saya download, jalankan di VMware Workstation, dan dalam kurang dari setengah jam, saya sudah bisa bilang bahwa aplikasi ini bagus atau tidak.
Kelihatannya perkembangan packaging produk Open Source dengan image VMware inilah yang paling mudah dan disukai. Cukup sediakan komputer yang cukup kencang dan RAM, anda sudah dapat mengevaluasi sebuah produk Open Source dengan cepat.
Sekedar saran kepada developer Open Source yang ingin memasarkan produknya, cobalah buat image VMware nya. Mudah-mudahan akan makin banyak orang dapat langsung merasakan manfaatnya dengan cepat, tanpa pusing tanpa pening.
Mudah-mudahan berguna,
Wassalamu ‘alaikum wr.wb.

Artikel yang menarik. Terutama yang ke-3
Ide dari bugzilla, tapi uraiannya perlu.
Apalagi berbahasa Indon.
Thanks!
Comment by gobzip — March 28, 2006 @ 2:49 am
hehehe.. kalo saya tadi malam “memaksa” seseorang untuk menggunakan OOo, dan dia gak komplen sama sekali! malah dia seneng-seneng aja.. hehe.. saya gak bilang banyak waktu itu, pokoknya cara makainya gitu aja.. hehe.. and he’s fine with that. :p
Comment by bn — March 28, 2006 @ 5:55 am
revolusi Open source memang luar biasa, saya terkadang berpikir knp tdk dibuat satu standar Distro Nasional sehingga lebih mudah dalam memasyarakatkan dan implementasinya.
kita tdk pusing lagi milih distro mana yg ideal krn masing2 punya kelebihan…jika perlu kurikulum pendidikan berbasis Open source!
bagaimana pendapat rekan2 yg lain?
Comment by Agus Daeng — March 28, 2006 @ 10:53 am
Saya ndak yakin kaum akademisi memikirkan “open source” dalam kurikulum-nya jika ternyata sudah ada rencana ber-Campus-Agreement.
Lihat report:
http://gatut.edublogs.org/2006/03/01/kala-pts-ngehargai-haki-ie-software/
Melihat kesempatan?
Ada usul, alternatif … ?
Comment by gobzip — April 1, 2006 @ 2:49 am
sebenarnya IGOS (Indonesia Go open Source) sudah dicanangkan oleh 5 menteri, diantaranya oleh Mendiknas (saat itu malik fajar). hal ini yg disayangkan krn tdk ada follow up….demikian juga teknis pelaksanaanya belom jelas/atau mungkin saya yg belum mendapatkan kejelasan.
Comment by agusdaeng — April 3, 2006 @ 12:16 pm
#1. Sebenarnya membuatnya gampang kok pak. VMware itu kan seperti kita punya komputer independen di dalam PC kita, lengkap dgn BIOS dan hardware. Kita install sesuatu di VMware seperti halnya kita menginstall PC kita sendiri. Untungnya adalah komputer yang kita install di VMware ini bisa dibawa kemana-mana, diupload di server Internet, semua orang bisa langsung pakai.
Nah, idenya adalah kita buatkan “komputer siap pakai” agar orang dapat segera mengevaluasi produk kita tanpa direpotkan dengan proses instalasi.
Comment by affanzbasalamah — April 3, 2006 @ 5:00 pm